Apa Itu Loss Aversion?
Disebut juga: Takut rugi, Bias kerugian
Loss aversion adalah kecenderungan merasakan sakitnya rugi kira-kira dua kali lebih kuat daripada senangnya profit dengan nominal yang sama.
Konsep ini berasal dari penelitian Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Rugi Rp 1 juta terasa jauh lebih menyakitkan daripada senangnya profit Rp 1 juta. Di trading, perasaan ini memicu dua kebiasaan yang merusak:
- Menahan posisi rugi terlalu lama: menutup posisi berarti "mengakui" kerugian, jadi kamu menunggu harga balik, menggeser stop loss, atau bahkan menambah posisi
- Menutup posisi profit terlalu cepat: takut profit kecil hilang, jadi keluar di +0,5R padahal target +2R
Gabungan keduanya membuat rata-rata rugi besar dan rata-rata profit kecil. Bahkan dengan win rate 65%, expectancy bisa negatif. Contoh: 65 trade profit rata-rata Rp 100 ribu dan 35 trade rugi rata-rata Rp 250 ribu menghasilkan total minus Rp 2,25 juta.
Cara mengurangi dampaknya:
- Pasang stop loss dan take profit sebagai order di platform, bukan di kepala
- Pikirkan hasil dalam satuan R, bukan Rupiah, supaya angka nominal tidak memicu emosi
- Ukur posisi cukup kecil sehingga kerugian 1R tidak mengganggu tidur kamu
- Tinjau jurnal trading untuk melihat seberapa sering kamu keluar lebih awal dari rencana
Kerugian kecil yang diterima dengan tenang adalah bagian normal dari strategi yang sehat.
Pelajari lebih dalam
Psikologi Trading: Cara Mengendalikan FOMO, Takut, dan Revenge Trading
Psikologi trading untuk pemula: kenali FOMO, rasa takut, revenge trading, dan overtrading, lalu bangun aturan dan kebiasaan yang bikin keputusan lebih tenang.
Istilah Terkait
Dari Istilah ke Praktik
Kurikulum Cuanterus membahas istilah-istilah ini dalam konteks trading nyata, lengkap dengan sinyal, market briefing harian, dan komunitas untuk bertanya.
Daftar Sekarang